Akhir Persahabatan
“ Akhirnya juga harus ku relakan kehilangan
teman sejatiku. Segalanya tlah ku berikan juga kekuranganku. Jika memang ini
yang terbaik untuk diriku dan dirimu kan ku lakukan semua demi kita. “
Sepenggal
lagu yang dinyanyikan Obiet “Idola Cilik” tadi mengingatkan Elina pada
peristiwa lalunya. Ya... gadis berambut
panjang itu pernah kehilangan seorang sahabat, sahabat yang sangat
disayanginya. Membayangkan kejadian itu saja membuatnya ingin menangis lagi. Elina
tidak pernah menyangka bahwa sahabatnya, bahkan yang sudah Ia anggap sebagai
kakaknya sendiri marah besar kepadanya akibat kesahalah pahaman yang disebabkan
Ade. Ade Masayu Kirana adalah teman dekat Elina. Gadis yang menurut Elina
sombong dan sangat judes ini yang menyebabkan berakhirnya persahabatan gadis
yang bernama lengkap Marchelina Nukita itu dengan Kak Handi. Sehingga membuat
cowok berkacamata itu sangat membenci Elina.
***
Awal mula
perkenalan kami memang tidak terduga. Waktu itu kami bertemu di suatu Pusat
Perbelanjaan di Kota Malang. Aku dan teman – teman kakakku ingin nonton film Laskar Pelangi.
Kebetulan Kak Handi adalah adik kelas
dari kakak Elina, yang kerap ia sapa, Kak Putri.
“ Lhoh,
Kak Putri ngapain ada disini...???” tanya Kak Handi dengan wajah yang lugu.
“ Udah tau ini bioskop ya jelas mau nonton
filmlah.”sahut Kak Dara, teman Kak Putri.
“He...
he...he... iya tau Kak. Kakak mau nonton film apa ? Laskar Pelangi ? ”
Kebetulan saat banyak yang berminat menonton film tersebut.
“ Iya..
Kok tau..?? “ kata Kak Putri.
“ Aku juga
pengen liat film itu. Tapi sayang,
tiketnya sudah habis terjual... ?!?” kata cowok kutu buku itu. Pernyataan itu
membuat Elina dan teman – teman Kak Putri kecewa.
“
Yaaahhh... Kok abis sih ??” kata Kak
Febry “ Gimana kalo kita cari buku di Gramedia aja...??? Daripada pulang kan
ntar di rumah juga gak ngapa-ngapain.”
Ajakan Kak Febry disetujui kakak – kakak yang lain.
Akhirnya kami
jalan ke Gramedia. Disana aku hanya membeli majalah dan beberapa novel.
Sedangkan Kak Dara dan Kak Ludhi yang suka bercanda hanya membaca komik disana
dan tidak membelinya. Mereka berdua bercanda terus, gak bisa diem. Malu juga kadang – kadang dekat mereka. Sehabis dari
Gramedia kami langsung ke foodcourt. Aku hanya membeli makanan kecil. Setelah
kenyang kami pun memutuskan untuk pulang.
Setiba dirumah aku bertanya-tanya pada
Kak Putri. Kakak yang menjadi teman curhatku di rumah. Awalnya aku malu-malu
untuk menanyakan nomor ponsel Kak Handi. Ternyata Kak Putri lumayan deket ma
cowok bertubuh kurus itu. Langsung aku SMS cowok itu. Aku juga mengirimkannya
pada Ade. Namun, memang sifat Ade yang terkadang bikin aku sebal. Tadi sewaktu
di Gramedia ia ngotot minta nomornya
Kak Handi kepadaku, namun setelah aku mendapatkan nomor ponsel cowok ramah itu
dia malah mengatakan “ngapain aku kenalan sama cowok bencong itu”.
Dia selalu menilai orang seperti itu, seenaknya sendiri gak pernah intropeksi diri sendiri. Lagian kalo gak mau ya sudah gak
usah jelek-jelekin oranglah. Hampir marah aku dibuatnya.
Ternyata kak Handi adalah seseorang
yang ramah. Dia enak diajak cerita. Nah, ini dia sahabat yang selama ini aku
cari. Care, ramah dan pendengar yang
baik. Aku selalu menceritakan masalah-masalahku ke Kak Handi. Tidak seperti Ade
udah jutek judes lagi, siapa yang mau
temenan ma dia. Upppsss..... jadi ngomongin yang jelek-jelek deh. Tapi, itu kan
emang kenyataan. Siapa suruh gak mau ngerubah sikapnya. He...he...he...yang aku
omongin tadi juga disetujui Kak Handi. Gadis sombong itu ternyata juga mengirim
SMS. Gimana sih katanya gak mau, ternyata di SMS juga ? Biarkan sajalah. Lagian
dia juga ingin berteman dengan cowok bertubuh jangkung itu.
Hari Minggu pagi aku dibangunkan oleh
nada dering di ponselku.
“Siapa sih yang SMS jam segini ?? Ganggu orang tidur saja !!” batinku. Tak kuhiraukan deringan
ponselku. Deringan ponselku mengganggu Kak Putri juga. Alhasil, aku dapat
omelan dari cewek bertubuh tinggi itu.
“Elina, cepat ambil ponselmu. Jangan
sampai ponsel itu aku banting.” Teriak Kak Putri di samping telingaku.
“Iyaaaa. Biasa aja kali jangan
teriak-teriak di telinga orang.” Jawabku tak kalah ketus. Siapa suruh
membangunkan orang dengan cara yang seperti itu. Gak sopan !!!! Ku ambil
ponselku dengan sebal. Setelah kulihat ternyata nama yang tertera adalah Kak
Handi. Ternyata dia ingin bercerita kepadaku. Tentang kejadian kemarin malam
yang menimpa dirinya.
Nah, lagi – lagi Ade yang menjadi
penyebab masalah Kak Handi. Cewek berambut pendek itu mengolok – olok Kak
Handi. Kak Handi jelas marahlah. Bayangkan saja seorang laki – laki dibilang
“LEKONG”. Huhhh... aku kaget dengan penjelasan cowok lugu itu. Setelah itu aku
menghibur Kak Handi, aku mengatakan bahwa mungkin Ade hanya bercanda dan tidak
serius. Dan memang sifat sombong cewek tengil yang menyebalkan itu sedang kumat.
Aku, yang kata teman – temanku, cewek yang bisa menghibur orang, bisa
meluluhkan dan membuat percaya Kak Handi bahwa Ade sedang bercanda, walaupun
itu memang keterlaluan.
Nah, keesokkan harinya aku bertanya
pada Ade, tentang perkataan Kak Handi kemarin.
“De, kemaren kamu SMS Kak handi
ya....???” tanyaku menyelidik.
“Iya, kenapa....??” Ade menjawab
dengan santai.
“Lhoh..... kamu SMS apa aja ke Kak
handi ? Kamu bilang “LEKONG” ya ke Kak Handi ?” tanyaku sambil mengucapkan kata
lekong dengan sedikit penekanan.
“Iya, habisnya aku dikasi tau Kak Febri, kalau Kak Handi
itu agak sedikit “itu”.” Jawab Ade innocent.
“Tapikan, gak segitunya juga kan De, kamu gak harus
ngomong secara blak-blakkan juga dong. Iya kalo orang yang kamu ejek itu bisa
nerima, kalo gak kan kasian juga. Dia bisa gak PD setelah kamu bilang begitu.”
Ceramahku panjang lebar.
“Lhoh...lhoh... kok jadi kamu yang marah ? Kan yang aku ejek bukan kamu. Kamu suka
ya sama Kak Handi ??” tanya Ade dengan heran.
“Lhoh... bukannya marah. Aku sebagai
teman dekatmu hanya mengingatkan. Seharusnya kita gak begitu juga ke orang
lain. Heh...enak aja siapa yang suka sama dia. Aku cuma menganggap cowok itu
sebagai sahabatku.” Jawabku kalem.
“He...he..he... Iya-iya aku tau aku
gak akan menghina orang lagi. Sahabat atau sahabat..?? Yakin hanya
menganggapnya sahabat ??” Goda Ade.
Kurasakan pipiku panas, apakah merah
?? Uuughh....!!! Ade membuatku malu, sudah jelas aku gak suka ma Kak Handi
tetap saja dia menggodaku.
“Iiiihh... apaan sih kamu ?? Udah ah
gak mau bahas itu lagi. Aku mau pulang aja deh...” Jawabku sebal. Aku bergegas
pulang setelah berpamitan dengan orang tua Ade.
“Hey, Elina, kita belum selesai
ngobrol. Kita juga belum mengerjakan tugas kelompok kita.” Teriak Ade.
Ya ampun. Aku kok bisa lupa ya mau ngerjain tugas bareng. Bodo’ amat ah,
salah sendiri ngapain membuat aku malu. Batinku. Tak kuhiaraukan teriakan Ade. Aku malah
mempercepat langkahku. Setiba di rumah aku langsung memeriksa ponselku.
Ternyata ada 10 pesan masuk. Ya ampun siapa lagi yang SMS sampai sebanyak ini.
Ternyata setelah ku periksa, 8 SMS dari Kak Handi dan 2 SMS dari Ade.
“Ha...ha...ha..” Aku tertawa sendiri
di kamar. Kok bisa sih mengirim pesan sebanyak itu. Lalu kubuka pesan dari Ade,
ternyata dia memarahi aku. Lalu satu panggilan masuk ke ponselku. Nama yang
tertera di layar ponselku ternyata panggilan telepon dari Ade.
“ Hal..??” Kuangkat telepon Ade. Belum
selesai aku mengucapkan salam dia sudah menyerbuku dengan berbagai macam pertanyaan.
“ Halo, Elina, ehh, kamu ngapain sih
tadi langsung pulang ?? Tugas kita belum selesai tau. Siapa yang mau ngerjain
?? Balik ke rumahku lagi sini. Heh kok gak dijawab. Hallo...hallo.. Elina,
masih hidupkan...????” cerocos Ade tak henti-henti.
“Udah selesai ngomongnya ?? Kalo
ngomong direm dong, gimana aku bisa jawab kalo kamu ngomong gak ada titiknya.
Tadi aku pulang soalnya ada urusan penting.”
“ Urusan apa ???” Tanya Ade.
“ Ada deh mau tau aja. Ya udah
tugasnya biar aku yang ngerjain. Ntar kamu anter aja kerumahku. Aku tunggu ya.
Dahh.” Klik kutekkan tombol merah pada ponselku. Dan mengakhiri percakapanku
dengan Ade.
Aku melanjutkan membuka SMS dari Kak
Handi. Ternyata dari tadi dia menunggu aku membalas SMS-nya. Kami membicarakan
banyak hal. Mulai dari kejadian – kejadian di sekolah, yang biasanya dia
menghabiskan sebagian waktu istirahatnya di perpustakaan dengan membaca buku.
Kadang dia cerita sehabis dimarah-marahin sama Mamanya, padahal Kak Handi gak
salah apa – apa. Aku menghiburnya, bahwa dia kan anak pertama jadi harus ngalah
sama adiknya. Dia juga bercerita kalau Mamanya suka membuat kue kering. Aku
pernah diajak kerumahnya, biar bisa merasakan kue – kue yang dibuat mamanya. Kalau
Ayahnya pandai menggambar dan melukis. Sebenarnya, Ayah Kak Handi menginginkan
Kak Handi pandai menggambar, tapi karena, Kak Handi gak suka menggambar dia
tidak terlalu menekuni pelajaran menggambar. Dia hanya suka membaca.
Kadang juga dia bermain laptop untuk sekedar membuka
internet dan membuat account jejaring sosial seperti Facebook dan Friendster. Kadang dia juga mengajariku bagaimana cara membuat E-mail, setengah mati aku membuatnya dan
hasilnya adalah NIHIL. Aku tidak bisa membuat account E-mail, maklum dulukan aku tidak mengerti apa-apa tentang
internet. Lagian aku sudah kelas VI SD. Sebentar lagi UNAS dan aku mau
konsentrasi ke pelajaran dan jarang membuka komputer apalagi internet.
Kami menghabiskan waktu 5 jam untuk
saling mengirim pesan. Dari jam 1 siang sampai jam 6 sore tanpa henti. Adzan
Magrib pun berkumandang, aku pun menyudahi mengirim pesan ke Kak Handi. Aku
bergegas untuk melakukan Sholat Magrib. Sekitar jam 7 malam Kak Handi
mengirimkan aku SMS lagi. Ketika itu aku sedang megerjakan PR. Aku juga kadang
– kadang bertanya tentang pelajaran. Aku sedang mengerjakan PR IPS dan
kebetulan ada beberapa soal yang tidak aku mengerti. Dan aku menanyakan jawaban
dar \i pertanyaan itu kepada Kak Handi. Kak Handi pun bisa menjawab pertanyaanku.
Dia ternyata masih ingat pelajaran SD. Namanya juga anak pintar aku tidak
merasa begitu heran. Kalau aku bertanya pada Kak Putri pasti jawabnya gak tau,
atau memarahiku dan menyuruhku untuk mencari dibuku. Tugasku selesai pada pukul
8 malam. Aku heran biasanya aku bisa mengerjakannya sampai 2 jam. Tapi, berkat
bantuan Kak Handi PR-ku selesai hanya dalam waktu 1 jam. Aku melanjutkan SMS-an dengan Kak Handi. Dia memberi
tau-ku makanan – makanan yang dia sukai. Diantaranya Lasagna, Sushi, nasi Goreng, Sate, Chicken Teriyaki dan masih banyak lagi. Aku hanya mengingat
sedikit makanan yang disukai Kak Handi. Dan dia juga menanyakan makanan
kesukaanku. Aku sih, gak terlalu aneh
– aneh. Apa saja yang dimasak Mama pasti aku suka. Tak terasa sekarang sudah
pukul 10 malam. Aku memutuskan untuk tidur.
Sudah sebulan lebih aku mengenal Kak
Handi. Sekarang sudah memasuki bulan Desember. Yang berarti beberapa hari lagi
Kak Handi berulang tahun. Aku pernah bertanya padanya kapan dia berulang tahun.
Ternyata ulang tahunnya jatuh pada tanggal 24 Desember. Aku tak sabar ingin
mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ide jail pun mucul di otakku. Aku
berniat untuk mengerjainya untuk tidak mengirim SMS atau pun telepon dengannya selama satu minggu
sebelum hari ulang tahunnya. Selama tujuh hari berturut – turut dia mengirimkan
banyak sekali pesan. Aku sama sekali tak menghiraukannya, aku hanya membaca dan
tidak membalasnya. Ha...ha...ha.... jahat sekali aku. Tapi, aku kan memang
tidak berniat cuek kepadanya aku hanya menjailinya. Dia kadang mengirim pesan
meminta maaf, kadang – kadang bertanya – tanya padaku apa salahnya padaku
kenapa sampai bisa tidak membalas pesannya. Dan marah – marah kepadaku saking
kesalnya.
Hari telah berlalu akhirnya waktu yang
ku nanti tiba juga. Tanggal 23 Desember 2009 pukul 11 malam aku belum tidur.
Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Nah,
tepat pukul 00.00 aku menelepon Kak Handi........
Tut...tut...tut..... Aku menunggunya untuk mengangkat teleponku.
“Hallo.” Terdengar suara berat di
seberang sana.
“Hallo Kak Handi SELAMAT ULANG TAHUN
YAHHHHH....!!” teriakku di telepon.
“Hahh..? Siapa ini?? Elina ya...??”
tanya Kak Handi yang mulai sadar walaupun awal tadi suaranya terdengar linglung
dan bingung.
“ Iyah Kakak...” Dan aku menyanyikan
lagu Happy birthday untuknya.
“ Happy
Birthday to you...
Happy Birthday to you...
Happy Birthday, Happy birthday...
Happy Birthday Handi.....
Happy Birthday ya Kak. Wish You All The Best..... !!!”
“ Iya, Elina makasih banyak yah. Ya
ampun, kamu sampai bela-belain belum tidur sampai jam segini buat ngucapin
selamat ulang tahun ke aku. Makasih banyak yah, kamu memang sahabat terbaikku.”
Ucap Kak Handi.
“ Iya Kak, sama – sama.” Ucapku tulus.
“Iyah.. tapi selama seminggu ini kamu
kemana ?? Kok gak ada kabar ?? Kamu marah sama aku ?? Salah aku apa ??” Tanya
Kak Handi.
“He...he...he... gak kok Kak aku, gak
marah. Kakak gak punya salah apa – apa ke aku.” Jawabku cengengesan.
“ Terus kenapa gak bales SMS-ku..??”
“ Hehehe.. Aku kan mau ngerjain Kak
Handi dalam rangka ulang tahun Kak Handi. Hahaha....” Jelasku.
“Ya ampun..... Kirain kamu marah sama
aku. Ternyata kamu ngerjain aku. Tau gak aku takut tau gak bisa SMS-an ma kamu
lagi.”
“Hehehe.. ya gak lah. Aku juga gak
pengen kita gak SMS-an. Kejutanku sukseskan?”
“Iya... sukses banget, sukses bikin
aku ketakutan. Ehhh... udah jam segini kamu gak tidur ?? Dari tadi belum
tidurkan ?? Ntar sakit lhoh...!!” Jawab Kak Handi cemas.
“Iya..iya... habis ini juga tidur. Ya
udah Kak aku tidur deh. Sekali lagi selamat Ulang tahun ya..??!!”
“Iya makasih banyak, Elina. Kamu orang
pertama yang mengucapkan selamat kepadaku. Ya udah kamu tidur yah. Selamat
tidur. Dhah Elina,mimpi indah ya.”
“He’eh. Dha Kak Handi. Selamat tidur
juga.” Jawabku dan perlahan – lahan mataku tertutup.
Tak terasa sudah pukul 06.00 pagi, aku
sudah terbangun dari tidurku. Kuambil ponsel yang berada di sebelah ranjangku.
Ternyata Kak Handi mengirimkanku 5 pesan. Dan isinya adalah.....
SENDER : Kak Handi +628925419963
TEKS MESSAGE :
Elina bangun udah pagi....
Ntar ke sekolahnya telat lhoh...
RECIEVE : 05 : 07 : 00 a.m
Ya ampun.. !!! Ternyata
tadi pagi Kak Handi membangunkanku. Baik juga Kak Handi. Aku tersenyum
mengingat peristiwa tadi pagi. Ternyata rencanaku sukses, aku berhasil
membuatnya terkejut dan menjadi orang pertama yang mengucapkan Selamat Ulang
Tahun. Senangnya usahaku gak sia – sia.
Beberapa hari ini aku
sangat sibuk. Sekolah dari jam 06.00 pulang jam 14.00 dan dilanjutkan les.
Sehabis les aku belajar dan mengerjakan PR. Hampir gak sempat SMS Kak Handi. Waktu senggangku hanya
hari Sabtu. Dan 1 Minggu lagi aku aku akan menjalankan Ujian Semester 1 di
sekolahku.
Aku mengatakan pada Kak
Handi bahwa untuk beberapa hari ini kita break
SMS.an dulu. Aku mau konsentrasi pada
ujianku agar memperoleh nilai yang baik. Kak Handi menyetujui kesepakatan kita.
Dia juga mau konsentrasi Ujian Semester juga.
Akhirnya Ujian Semester
1 telah kami lewati. Kak Handi mulai SMS.an
denganku. Kami saling melepas rindu. Kak Handi meminta aku mengirim fotoku
padanya. Dan aku pun mengirimkannya, tapi sayang, fotoku tidak terkirim. Dan
gantian aku yang meminta Kak Handi mengirimkan fotonya. Tapi, di ponselku foto
Kak Handi tidak bisa dibuka. Ya sudahlah kami tidak terlalu memikirkannya.
Kak Handi pernah
bertanya pada aku, apakah aku dekat sekali dengan Ade ? Ya aku menjawab aku
memang dekat dari kelas 1 SD. Awalnya memang Ade itu baik dan ramah. Tapi,
setelah lama – kelamaan aku mulai mengenal sifat buruknya. Mulai dari yang dia
mau menang sendiri, kadang – kadang egois tidak mau memikirkan temannya. Lalu
dirumah biasanya dia marah – marah dengan pembantunya. Kadang aku kasian dengan
orang yang pernah ia marahi. Tapi, dia paling takut kalau sudah kena omelan
kakaknya. Dia pasti selalu mau mengalah kalau kakaknya sudah mengancamnya.
Dia juga pernah membuatku
kehilangan sahabat. Dua orang sahabat, Nana dan Iva. Iva yang aku sudah
mengenalnya dari TK, aku dekat sekali dengan Iva namun semenjak Ade pindah ke
daerah rumahku Iva sudah jarang bermain dengannya. Ketika aku mengajak bermain
dengan Iva pasti Ade selalu menolak dan akhirnya Iva tidak pernah bermain lagi
denganku. Natalia Vinda yang aku sapa Nana juga sahabatku. Ia pindah dari Kota
Bandung ke Kota Malang. Aku mulai mengenal Nana dari kelas 2 SD. Namun, karena
Ade tidak suka dengan anak baru disekolah, siapapun anak baru disekolah. Dia
selalu mengajakku pergi ketika Nana mendekatiku. Namun, jika diluar sekolah aku
dan Nana selalu bermain bersama. Kita bersepeda bersama, main masak-masakkan ataupun bermain boneka.
Kadang aku yang kerumah Nana dan kadang gadis berkulit cokelat itu yang bermain
kerumahku. Tapi, kadang – kadang aku juga bermain dengan Ahmad, Dika, Nana dan
aku. Kami berempat selalu bersama. Kami juga pernah megajak Ade bermain bersama
tapi, dia tidak mau.
Namun pada bulan Januari
2010, Ade mengulangi kesalahanya lagi. Waktu itu pengambilan rapor di sekolah.
Yang kebetulan kami boleh membawa ponsel ke sekolah. Kami semua menunggu di
luar kelas. Tiba – tiba Ade meminjam ponsel. Aku tidak tau apa yang dia
lakukan. Aku membiarkannya memainkan ponselku dan aku melanjutkan mengobrol
dengan teman – temanku yang lain.
“ Elina, aku buka pesan
masukmu ya...??” teriak Elina padaku.
“ Iya buka aja terserah
kamu.” Kataku yang sudah mempercayai Ade. Tiba – tiba Ade menghampiriku.
“ Eh... aku minta 1 SMS
ya...” pinta Ade.
“ Buat apa ?? Mau kirim
ke siapa ??”
“ Ada deh. Pelit banget
kamu. Boleh ya ?” pinta cewek berambut ikal itu.
“ Ya udah. Pake aja
sana.” Jawabku
“ Nah, gitu dong.
Makasih Elina.” Sambil pergi meninggalkanku dan membawa ponselku. Aku biarkan
saja, toh dia tidak akan mencuri ponselku. Aku bosan dari tadi mengobrol dengan
temanku. Dan aku memutuskan untuk mengajak yang lain pergi ke kantin untuk
membeli makanan kecil.
Rapornya masih belum
dibagikan. Lama sekali ya, biasanya cepat, ternyata gurunya sedang memberitahu
tentang Pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah. Ade mengajakku untuk pulang. Dia marah
– marah sedari tadi gara – gara menunggu Mamanya tidak keluar dari kelas. Aku
menuruti kemauan Ade untuk pulang kerumah.
Sewaktu dijalan, aku mendapat
satu pesan. Dan setelah ku lihat ternyata pesan tersebut dari Kak Handi. Namun
aku heran dibuatnya. Kenapa dia marah – marah ke aku ? Emang aku salah apa ?
SENDER : Kak Handi +628925419963
TEXT MESSAGE :
Elina, ngapain sih kamu sms aku kayak
gitu..
Aku tau emang aku kayak gini..
Kamu gak ada bedanya sama Ade..
!@@^*^#&%&%&....!!
I HATE YOU.... :@
RECIEVED : 11 : 08 : 40 a.m
Aku bingung dengan apa
yang dikatakan Kak Handi. Aku salah apa ? Apa dia mau balas dendam kepadaku ?
Dia mau mengerjaiku? Tapi dalam rangka apa ? Berbagai pertanyaan memenuhi
pikiranku. Aku masih bingung dan tidak tau kesalahanku. Aku pun membalas
SMS-nya dan menjawab bahwa aku tidak tau apa maksud pesaannya. Kak Handi
membalas pesanku dan semakin marah kepadaku. Aku tetap berfikir, lalu aku
membuka pesan terkirimku di ponsel. Dan ternyata ada satu pesan yang bukan aku
yang membuatnya.
TO : Kak Handi +628925419963
TEXT MESSAGE :
Handi Pranata Bagus..
Jelek, pake behel warna biru, kacamata
kuda
Nyebelin
Adee...
SENT : 10.08.45
Today
Ya ampun !! Jadi ini
yang menyebabkan Kak Handi marah padaku. Aku kembali mengirim pesan pada Kak
Handi. Dan menjelaskan semuanya namun, usahaku sia – sia. Dia tetap saja tidak
percaya kepadaku. Dan mengira bahwa aku yang benar – benar mengirim pesan itu.
Memang bukan salahku. Lagian sudah jelas yang mengirim Ade keran Ade juga
mencantumkan namanya ketika mengirm pesan itu. Lalu aku bertanya pada Ade.
“ Ade, kamu apa – apaan sih, ngirim pesan seperti itu ke Kak
Handi ??” tanyaku\u ketus.
“ Lhoh.... Emang kenapa
??” Dengan tatapan tidak bersalah.
“ Yeee.... pake tanya
lagi. Jelas Kak Handi marahlah” Jawabku makin ketus.
“ Tapi, dia marahnya ke
aku. Kan aku yang mengirimkan pesan itu.”
“ Siapa bilang ?? Dia
marah ke aku, dia bilang aku yang ngirim SMS seperti itu ke dia. Aku sudah
menjelaskan tapi dia gak mau mendengar penjelasanku. “
“ Ya sudah. Aku minta
maaf.”
“ Apa minta maaf ?? Enak
ya kamu ngomong kayak gitu.”
“ Iiihh.. masa gitu aja
marah. Maaf ya Lin.” Pinta Ade.
“ Yasudah aku maafkan “
jawabku walaupun agak gak ikhlas. Sepulang sekolah aku langsung masuk ke kamar.
Hari ini aku terasa begitu lelah. Capek badan, capek pikiran capek hati pula...
Aku menceritakan kejadian
yang baru aku alami pada Kak Putri. Dia berusaha menghiburku. Aku menangis.
“Tetep aja Kak, dia gak
mau dengerin aku. Aku telepon juga gak diangkat.” Rengekku pada Kak Putri.
“Ya
udah kamu sabar aja. Lagian kan kamu masih punya teman yang lainnya. Gak Cuma
Handi saja.”
“Bukan
masalah itu juga kali. Ntar kan dia mengira aku yang benar – benar mengirim
pesan itu. Kan aku yang gak enak juga kalau suatu saat aku bertemu dia.”
Jawabku sambil mengusap air mata yang membanjiri wajahku.
“
Udah dong jangan nangis lagi. Ntar ketahuan Mama sama Papa lhoh. Ntar kakak
bantu kamu bilang ke Handi bahwa kamu gak salah. Emang kenyataannya kamu gak
salahkan ?? Ya sudah diam dong jangan nangis.” Jawab cewek berpipi tembem itu
dan mengusap air mataku dengan lembut.
“
Iya Kak, makasih. Tapi, aku kan sebel sama Ade. Uhhh.... rasanya aku gak mau
kenal dia lagi. Ya ampun, aku gak habis pikir dia ngelakuin itu lagi ke aku.
Dulu Iva dan Nana yang dibuatnya menjauh dariku. Sekarang Kak Handi. Capek aku
digituin sama dia. Dia juga gak bisa jadi sahabat terbaikku.” Jawabku sambil
memaki – maki Ade.
“
Iya...iya Kakak tau. Emang sih, gak kakaknya, gak adiknya, sifatnya sama semua.
Kakak juga sangat sebal kalau Febri sudah mengkritik orang. Ummmh... salah menghina
bukan mengkritik. Tuh kan Lin, kakak jadi ngomongin orang deh. Kamu sih, kakak
jadi kebawa emosi.” Sesal Kak Putri.
“
Ha..ha..ha... Kak Putri ada – ada saja. Kakak kan ngomongnya kebetulan berarti
itu murni kekesalan kakak yang ada benakmu. Ya sudahlah... Kita memang harus
tabah mengahadapi orang yang seperti itu. Emang watak orang berbeda – beda.”
“
Iya.. ya... akhirnya kamu berhenti nangis juga yah... Gitu dong aku bisa lihat
lagi, Elina yang ceria dan gak pernah diem.” Ucap cewek berkulit putih itu.
“
Iya...iya...”
“
Ya sudah. Coba hubungi Handi sekali lagi. Aku mau tidur. Duluan yah.”
Aku menuruti saran Kak
Putri dan mencoba menghubungi Kak Handi, aku mengirimkannya pesan tidak dibalas.
Meneleponnya tidak diangkat. Yasudah aku menyerah dan merelakan bahwa aku sudah
kehilangan sahabat baikku untuk kesekian kalinya.
***
Beberapa bulan kemudian......
Elina melihat dari kejauhan ada seseorang
memandanginya. Memandang dengan sinis tapi, seperti ada sedikit pandangan bersahabat.
Elina melihat disekelilingnya sudah tidak ada siswa yang memakai seragam putih
– merah lagi melainkan siswa yang beranjak dewasa yang memakai seragam putih –
biru. Elina menatap Handi dengan wajah memelas dan Handi memalingkan wajahnya
kemudian meninggalkan Elina. Dan Handi memang sudah tidak bisa memaafkan Elina.
“BERBAHAGIALAH KALIAN YANG MEM PUNYAI SAHABAT....!!” Gumam Elina.
~~~~~~ THE END ~~~~~~


No comments:
Post a Comment