Welcome Too

Welcome

Saturday, March 17, 2012

Cerita Pendek ~( ˘⌣ ˘~) (~˘⌣ ˘ )~

Akhir Persahabatan
            “ Akhirnya juga harus ku relakan kehilangan teman sejatiku. Segalanya tlah ku berikan juga kekuranganku. Jika memang ini yang terbaik untuk diriku dan dirimu kan ku lakukan semua demi kita. “
            Sepenggal lagu yang dinyanyikan Obiet “Idola Cilik” tadi mengingatkan Elina pada peristiwa lalunya. Ya... gadis berambut  panjang itu pernah kehilangan seorang sahabat, sahabat yang sangat disayanginya. Membayangkan kejadian itu saja membuatnya ingin menangis lagi. Elina tidak pernah menyangka bahwa sahabatnya, bahkan yang sudah Ia anggap sebagai kakaknya sendiri marah besar kepadanya akibat kesahalah pahaman yang disebabkan Ade. Ade Masayu Kirana adalah teman dekat Elina. Gadis yang menurut Elina sombong dan sangat judes ini yang menyebabkan berakhirnya persahabatan gadis yang bernama lengkap Marchelina Nukita itu dengan Kak Handi. Sehingga membuat cowok berkacamata itu sangat membenci Elina.
***
            Awal mula perkenalan kami memang tidak terduga. Waktu itu kami bertemu di suatu Pusat Perbelanjaan di Kota Malang. Aku dan teman – teman kakakku ingin nonton film Laskar Pelangi. Kebetulan  Kak Handi adalah adik kelas dari kakak Elina, yang kerap ia sapa, Kak Putri.
            “ Lhoh, Kak Putri ngapain ada disini...???” tanya Kak Handi dengan wajah yang lugu.
            “ Udah tau ini bioskop ya jelas mau nonton filmlah.”sahut Kak Dara, teman Kak Putri.
            “He... he...he... iya tau Kak. Kakak mau nonton film apa ? Laskar Pelangi ? ” Kebetulan saat banyak yang berminat menonton film tersebut.
            “ Iya.. Kok tau..?? “ kata Kak Putri.
            “ Aku juga pengen liat film itu. Tapi sayang, tiketnya sudah habis terjual... ?!?” kata cowok kutu buku itu. Pernyataan itu membuat Elina dan teman – teman Kak Putri kecewa.
            “ Yaaahhh... Kok abis sih ??” kata Kak Febry “ Gimana kalo kita cari buku di Gramedia aja...??? Daripada pulang kan ntar di rumah juga gak ngapa-ngapain.” Ajakan Kak Febry disetujui kakak – kakak yang lain.
            Akhirnya kami jalan ke Gramedia. Disana aku hanya membeli majalah dan beberapa novel. Sedangkan Kak Dara dan Kak Ludhi yang suka bercanda hanya membaca komik disana dan tidak membelinya. Mereka berdua bercanda terus, gak bisa diem. Malu juga kadang – kadang dekat mereka. Sehabis dari Gramedia kami langsung ke foodcourt. Aku hanya membeli makanan kecil. Setelah kenyang kami pun memutuskan untuk pulang.
           
Setiba dirumah aku bertanya-tanya pada Kak Putri. Kakak yang menjadi teman curhatku di rumah. Awalnya aku malu-malu untuk menanyakan nomor ponsel Kak Handi. Ternyata Kak Putri lumayan deket ma cowok bertubuh kurus itu. Langsung aku SMS cowok itu. Aku juga mengirimkannya pada Ade. Namun, memang sifat Ade yang terkadang bikin aku sebal. Tadi sewaktu di Gramedia ia ngotot minta nomornya Kak Handi kepadaku, namun setelah aku mendapatkan nomor ponsel cowok ramah itu dia malah mengatakan “ngapain aku kenalan sama cowok bencong itu”. Dia selalu menilai orang seperti itu, seenaknya sendiri gak pernah intropeksi diri sendiri. Lagian kalo gak mau ya sudah gak usah jelek-jelekin oranglah. Hampir marah aku dibuatnya.
Ternyata kak Handi adalah seseorang yang ramah. Dia enak diajak cerita. Nah, ini dia sahabat yang selama ini aku cari. Care, ramah dan pendengar yang baik. Aku selalu menceritakan masalah-masalahku ke Kak Handi. Tidak seperti Ade udah jutek judes lagi, siapa yang mau temenan ma dia. Upppsss..... jadi ngomongin yang jelek-jelek deh. Tapi, itu kan emang kenyataan. Siapa suruh gak mau ngerubah sikapnya. He...he...he...yang aku omongin tadi juga disetujui Kak Handi. Gadis sombong itu ternyata juga mengirim SMS. Gimana sih katanya gak mau, ternyata di SMS juga ? Biarkan sajalah. Lagian dia juga ingin berteman dengan cowok bertubuh jangkung itu.
Hari Minggu pagi aku dibangunkan oleh nada dering di ponselku.
“Siapa sih yang SMS jam segini ?? Ganggu orang tidur saja !!” batinku. Tak kuhiraukan deringan ponselku. Deringan ponselku mengganggu Kak Putri juga. Alhasil, aku dapat omelan dari cewek bertubuh tinggi itu.
“Elina, cepat ambil ponselmu. Jangan sampai ponsel itu aku banting.” Teriak Kak Putri di samping telingaku.
“Iyaaaa. Biasa aja kali jangan teriak-teriak di telinga orang.” Jawabku tak kalah ketus. Siapa suruh membangunkan orang dengan cara yang seperti itu. Gak sopan !!!! Ku ambil ponselku dengan sebal. Setelah kulihat ternyata nama yang tertera adalah Kak Handi. Ternyata dia ingin bercerita kepadaku. Tentang kejadian kemarin malam yang menimpa dirinya.
Nah, lagi – lagi Ade yang menjadi penyebab masalah Kak Handi. Cewek berambut pendek itu mengolok – olok Kak Handi. Kak Handi jelas marahlah. Bayangkan saja seorang laki – laki dibilang “LEKONG”. Huhhh... aku kaget dengan penjelasan cowok lugu itu. Setelah itu aku menghibur Kak Handi, aku mengatakan bahwa mungkin Ade hanya bercanda dan tidak serius. Dan memang sifat sombong cewek tengil yang menyebalkan itu sedang kumat. Aku, yang kata teman – temanku, cewek yang bisa menghibur orang, bisa meluluhkan dan membuat percaya Kak Handi bahwa Ade sedang bercanda, walaupun itu memang keterlaluan.
Nah, keesokkan harinya aku bertanya pada Ade, tentang perkataan Kak Handi kemarin.
“De, kemaren kamu SMS Kak handi ya....???” tanyaku menyelidik.
“Iya, kenapa....??” Ade menjawab dengan santai.
“Lhoh..... kamu SMS apa aja ke Kak handi ? Kamu bilang “LEKONG” ya ke Kak Handi ?” tanyaku sambil mengucapkan kata lekong dengan sedikit penekanan.
“Iya, habisnya aku dikasi tau Kak Febri, kalau Kak Handi itu agak sedikit “itu”.” Jawab Ade innocent.
“Tapikan,  gak segitunya juga kan De, kamu gak harus ngomong secara blak-blakkan juga dong. Iya kalo orang yang kamu ejek itu bisa nerima, kalo gak kan kasian juga. Dia bisa gak PD setelah kamu bilang begitu.” Ceramahku panjang lebar.
“Lhoh...lhoh... kok jadi kamu yang marah ? Kan yang aku ejek bukan kamu. Kamu suka ya sama Kak Handi ??” tanya Ade dengan heran.
“Lhoh... bukannya marah. Aku sebagai teman dekatmu hanya mengingatkan. Seharusnya kita gak begitu juga ke orang lain. Heh...enak aja siapa yang suka sama dia. Aku cuma menganggap cowok itu sebagai sahabatku.” Jawabku kalem.
“He...he..he... Iya-iya aku tau aku gak akan menghina orang lagi. Sahabat atau sahabat..?? Yakin hanya menganggapnya sahabat ??” Goda Ade.
Kurasakan pipiku panas, apakah merah ?? Uuughh....!!! Ade membuatku malu, sudah jelas aku gak suka ma Kak Handi tetap saja dia menggodaku.
“Iiiihh... apaan sih kamu ?? Udah ah gak mau bahas itu lagi. Aku mau pulang aja deh...” Jawabku sebal. Aku bergegas pulang setelah berpamitan dengan orang tua Ade.
“Hey, Elina, kita belum selesai ngobrol. Kita juga belum mengerjakan tugas kelompok kita.” Teriak Ade.
Ya ampun. Aku kok bisa lupa ya mau ngerjain tugas bareng. Bodo’ amat ah, salah sendiri ngapain membuat aku malu. Batinku. Tak kuhiaraukan teriakan Ade. Aku malah mempercepat langkahku. Setiba di rumah aku langsung memeriksa ponselku. Ternyata ada 10 pesan masuk. Ya ampun siapa lagi yang SMS sampai sebanyak ini. Ternyata setelah ku periksa, 8 SMS dari Kak Handi dan 2 SMS dari Ade.
“Ha...ha...ha..” Aku tertawa sendiri di kamar. Kok bisa sih mengirim pesan sebanyak itu. Lalu kubuka pesan dari Ade, ternyata dia memarahi aku. Lalu satu panggilan masuk ke ponselku. Nama yang tertera di layar ponselku ternyata panggilan telepon dari Ade.
“ Hal..??” Kuangkat telepon Ade. Belum selesai aku mengucapkan salam dia sudah menyerbuku dengan berbagai macam pertanyaan.
“ Halo, Elina, ehh, kamu ngapain sih tadi langsung pulang ?? Tugas kita belum selesai tau. Siapa yang mau ngerjain ?? Balik ke rumahku lagi sini. Heh kok gak dijawab. Hallo...hallo.. Elina, masih hidupkan...????” cerocos Ade tak henti-henti.
“Udah selesai ngomongnya ?? Kalo ngomong direm dong, gimana aku bisa jawab kalo kamu ngomong gak ada titiknya. Tadi aku pulang soalnya ada urusan penting.”
“ Urusan apa ???” Tanya Ade.
“ Ada deh mau tau aja. Ya udah tugasnya biar aku yang ngerjain. Ntar kamu anter aja kerumahku. Aku tunggu ya. Dahh.” Klik kutekkan tombol merah pada ponselku. Dan mengakhiri percakapanku dengan Ade.
Aku melanjutkan membuka SMS dari Kak Handi. Ternyata dari tadi dia menunggu aku membalas SMS-nya. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari kejadian – kejadian di sekolah, yang biasanya dia menghabiskan sebagian waktu istirahatnya di perpustakaan dengan membaca buku. Kadang dia cerita sehabis dimarah-marahin sama Mamanya, padahal Kak Handi gak salah apa – apa. Aku menghiburnya, bahwa dia kan anak pertama jadi harus ngalah sama adiknya. Dia juga bercerita kalau Mamanya suka membuat kue kering. Aku pernah diajak kerumahnya, biar bisa merasakan kue – kue yang dibuat mamanya. Kalau Ayahnya pandai menggambar dan melukis. Sebenarnya, Ayah Kak Handi menginginkan Kak Handi pandai menggambar, tapi karena, Kak Handi gak suka menggambar dia tidak terlalu menekuni pelajaran menggambar. Dia hanya suka membaca.
Kadang juga dia bermain laptop untuk sekedar membuka internet  dan membuat account jejaring sosial seperti Facebook dan Friendster. Kadang dia juga mengajariku bagaimana cara membuat E-mail, setengah mati aku membuatnya dan hasilnya adalah NIHIL. Aku tidak bisa membuat account E-mail, maklum dulukan aku tidak mengerti apa-apa tentang internet. Lagian aku sudah kelas VI SD. Sebentar lagi UNAS dan aku mau konsentrasi ke pelajaran dan jarang membuka komputer apalagi internet.
Kami menghabiskan waktu 5 jam untuk saling mengirim pesan. Dari jam 1 siang sampai jam 6 sore tanpa henti. Adzan Magrib pun berkumandang, aku pun menyudahi mengirim pesan ke Kak Handi. Aku bergegas untuk melakukan Sholat Magrib. Sekitar jam 7 malam Kak Handi mengirimkan aku SMS lagi. Ketika itu aku sedang megerjakan PR. Aku juga kadang – kadang bertanya tentang pelajaran. Aku sedang mengerjakan PR IPS dan kebetulan ada beberapa soal yang tidak aku mengerti. Dan aku menanyakan jawaban dar \i pertanyaan itu kepada Kak Handi. Kak Handi pun bisa menjawab pertanyaanku. Dia ternyata masih ingat pelajaran SD. Namanya juga anak pintar aku tidak merasa begitu heran. Kalau aku bertanya pada Kak Putri pasti jawabnya gak tau, atau memarahiku dan menyuruhku untuk mencari dibuku. Tugasku selesai pada pukul 8 malam. Aku heran biasanya aku bisa mengerjakannya sampai 2 jam. Tapi, berkat bantuan Kak Handi PR-ku selesai hanya dalam waktu 1 jam. Aku melanjutkan SMS-an dengan Kak Handi. Dia memberi tau-ku makanan – makanan yang dia sukai. Diantaranya Lasagna, Sushi, nasi Goreng, Sate, Chicken Teriyaki  dan masih banyak lagi. Aku hanya mengingat sedikit makanan yang disukai Kak Handi. Dan dia juga menanyakan makanan kesukaanku. Aku sih, gak terlalu aneh – aneh. Apa saja yang dimasak Mama pasti aku suka. Tak terasa sekarang sudah pukul 10 malam. Aku memutuskan untuk tidur.
Sudah sebulan lebih aku mengenal Kak Handi. Sekarang sudah memasuki bulan Desember. Yang berarti beberapa hari lagi Kak Handi berulang tahun. Aku pernah bertanya padanya kapan dia berulang tahun. Ternyata ulang tahunnya jatuh pada tanggal 24 Desember. Aku tak sabar ingin mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ide jail pun mucul di otakku. Aku berniat untuk mengerjainya untuk tidak mengirim SMS  atau pun telepon dengannya selama satu minggu sebelum hari ulang tahunnya. Selama tujuh hari berturut – turut dia mengirimkan banyak sekali pesan. Aku sama sekali tak menghiraukannya, aku hanya membaca dan tidak membalasnya. Ha...ha...ha.... jahat sekali aku. Tapi, aku kan memang tidak berniat cuek kepadanya aku hanya menjailinya. Dia kadang mengirim pesan meminta maaf, kadang – kadang bertanya – tanya padaku apa salahnya padaku kenapa sampai bisa tidak membalas pesannya. Dan marah – marah kepadaku saking kesalnya.
Hari telah berlalu akhirnya waktu yang ku nanti tiba juga. Tanggal 23 Desember 2009 pukul 11 malam aku belum tidur. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun. Nah, tepat pukul 00.00 aku menelepon Kak Handi........
Tut...tut...tut..... Aku menunggunya untuk mengangkat teleponku.
“Hallo.” Terdengar suara berat di seberang sana.
“Hallo Kak Handi SELAMAT ULANG TAHUN YAHHHHH....!!” teriakku di telepon.
“Hahh..? Siapa ini?? Elina ya...??” tanya Kak Handi yang mulai sadar walaupun awal tadi suaranya terdengar linglung dan bingung.
“ Iyah Kakak...” Dan aku menyanyikan lagu Happy birthday  untuknya.
Happy Birthday to you...
  Happy Birthday to you...
 Happy Birthday, Happy birthday...
Happy Birthday Handi.....
Happy Birthday ya Kak. Wish You All The Best..... !!!”
“ Iya, Elina makasih banyak yah. Ya ampun, kamu sampai bela-belain belum tidur sampai jam segini buat ngucapin selamat ulang tahun ke aku. Makasih banyak yah, kamu memang sahabat terbaikku.” Ucap Kak Handi.
“ Iya Kak, sama – sama.” Ucapku tulus.
“Iyah.. tapi selama seminggu ini kamu kemana ?? Kok gak ada kabar ?? Kamu marah sama aku ?? Salah aku apa ??” Tanya Kak Handi.
“He...he...he... gak kok Kak aku, gak marah. Kakak gak punya salah apa – apa ke aku.” Jawabku  cengengesan.
“ Terus kenapa gak bales SMS-ku..??”
“ Hehehe.. Aku kan mau ngerjain Kak Handi dalam rangka ulang tahun Kak Handi. Hahaha....” Jelasku.
“Ya ampun..... Kirain kamu marah sama aku. Ternyata kamu ngerjain aku. Tau gak aku takut tau gak bisa SMS-an ma kamu lagi.”
“Hehehe.. ya gak lah. Aku juga gak pengen kita  gak SMS-an. Kejutanku sukseskan?”
“Iya... sukses banget, sukses bikin aku ketakutan. Ehhh... udah jam segini kamu gak tidur ?? Dari tadi belum tidurkan ?? Ntar sakit lhoh...!!” Jawab Kak Handi cemas.
“Iya..iya... habis ini juga tidur. Ya udah Kak aku tidur deh. Sekali lagi selamat Ulang tahun ya..??!!”
“Iya makasih banyak, Elina. Kamu orang pertama yang mengucapkan selamat kepadaku. Ya udah kamu tidur yah. Selamat tidur. Dhah Elina,mimpi indah ya.”
“He’eh. Dha Kak Handi. Selamat tidur juga.” Jawabku dan perlahan – lahan mataku tertutup.
Tak terasa sudah pukul 06.00 pagi, aku sudah terbangun dari tidurku. Kuambil ponsel yang berada di sebelah ranjangku. Ternyata Kak Handi mengirimkanku 5 pesan. Dan isinya adalah.....
SENDER : Kak Handi +628925419963
TEKS MESSAGE :
Elina bangun udah pagi....
Ntar ke sekolahnya telat lhoh...
RECIEVE : 05 : 07 : 00 a.m
Ya ampun.. !!! Ternyata tadi pagi Kak Handi membangunkanku. Baik juga Kak Handi. Aku tersenyum mengingat peristiwa tadi pagi. Ternyata rencanaku sukses, aku berhasil membuatnya terkejut dan menjadi orang pertama yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun. Senangnya usahaku gak sia – sia.
Beberapa hari ini aku sangat sibuk. Sekolah dari jam 06.00 pulang jam 14.00 dan dilanjutkan les. Sehabis les aku belajar dan mengerjakan PR. Hampir gak sempat SMS Kak Handi. Waktu senggangku hanya hari Sabtu. Dan 1 Minggu lagi aku aku akan menjalankan Ujian Semester 1 di sekolahku.
Aku mengatakan pada Kak Handi bahwa untuk beberapa hari ini kita break SMS.an dulu. Aku mau konsentrasi pada ujianku agar memperoleh nilai yang baik. Kak Handi menyetujui kesepakatan kita. Dia juga mau konsentrasi Ujian Semester juga.
Akhirnya Ujian Semester 1 telah kami lewati. Kak Handi mulai SMS.an denganku. Kami saling melepas rindu. Kak Handi meminta aku mengirim fotoku padanya. Dan aku pun mengirimkannya, tapi sayang, fotoku tidak terkirim. Dan gantian aku yang meminta Kak Handi mengirimkan fotonya. Tapi, di ponselku foto Kak Handi tidak bisa dibuka. Ya sudahlah kami tidak terlalu memikirkannya.
Kak Handi pernah bertanya pada aku, apakah aku dekat sekali dengan Ade ? Ya aku menjawab aku memang dekat dari kelas 1 SD. Awalnya memang Ade itu baik dan ramah. Tapi, setelah lama – kelamaan aku mulai mengenal sifat buruknya. Mulai dari yang dia mau menang sendiri, kadang – kadang egois tidak mau memikirkan temannya. Lalu dirumah biasanya dia marah – marah dengan pembantunya. Kadang aku kasian dengan orang yang pernah ia marahi. Tapi, dia paling takut kalau sudah kena omelan kakaknya. Dia pasti selalu mau mengalah kalau kakaknya sudah mengancamnya.
Dia juga pernah membuatku kehilangan sahabat. Dua orang sahabat, Nana dan Iva. Iva yang aku sudah mengenalnya dari TK, aku dekat sekali dengan Iva namun semenjak Ade pindah ke daerah rumahku Iva sudah jarang bermain dengannya. Ketika aku mengajak bermain dengan Iva pasti Ade selalu menolak dan akhirnya Iva tidak pernah bermain lagi denganku. Natalia Vinda yang aku sapa Nana juga sahabatku. Ia pindah dari Kota Bandung ke Kota Malang. Aku mulai mengenal Nana dari kelas 2 SD. Namun, karena Ade tidak suka dengan anak baru disekolah, siapapun anak baru disekolah. Dia selalu mengajakku pergi ketika Nana mendekatiku. Namun, jika diluar sekolah aku dan Nana selalu bermain bersama. Kita bersepeda bersama, main masak-masakkan ataupun bermain boneka. Kadang aku yang kerumah Nana dan kadang gadis berkulit cokelat itu yang bermain kerumahku. Tapi, kadang – kadang aku juga bermain dengan Ahmad, Dika, Nana dan aku. Kami berempat selalu bersama. Kami juga pernah megajak Ade bermain bersama tapi, dia tidak mau.
Namun pada bulan Januari 2010, Ade mengulangi kesalahanya lagi. Waktu itu pengambilan rapor di sekolah. Yang kebetulan kami boleh membawa ponsel ke sekolah. Kami semua menunggu di luar kelas. Tiba – tiba Ade meminjam ponsel. Aku tidak tau apa yang dia lakukan. Aku membiarkannya memainkan ponselku dan aku melanjutkan mengobrol dengan teman – temanku yang lain.
“ Elina, aku buka pesan masukmu ya...??” teriak Elina padaku.
“ Iya buka aja terserah kamu.” Kataku yang sudah mempercayai Ade. Tiba – tiba Ade menghampiriku.
“ Eh... aku minta 1 SMS ya...” pinta Ade.
“ Buat apa ?? Mau kirim ke siapa ??”
“ Ada deh. Pelit banget kamu. Boleh ya ?” pinta cewek berambut ikal itu.
“ Ya udah. Pake aja sana.” Jawabku
“ Nah, gitu dong. Makasih Elina.” Sambil pergi meninggalkanku dan membawa ponselku. Aku biarkan saja, toh dia tidak akan mencuri ponselku. Aku bosan dari tadi mengobrol dengan temanku. Dan aku memutuskan untuk mengajak yang lain pergi ke kantin untuk membeli makanan kecil.
Rapornya masih belum dibagikan. Lama sekali ya, biasanya cepat, ternyata gurunya sedang memberitahu tentang Pelaksanaan Ujian Akhir Sekolah. Ade mengajakku untuk pulang. Dia marah – marah sedari tadi gara – gara menunggu Mamanya tidak keluar dari kelas. Aku menuruti kemauan Ade untuk pulang kerumah.
Sewaktu dijalan, aku mendapat satu pesan. Dan setelah ku lihat ternyata pesan tersebut dari Kak Handi. Namun aku heran dibuatnya. Kenapa dia marah – marah ke aku ? Emang aku salah apa ?
SENDER : Kak Handi +628925419963
TEXT MESSAGE :
Elina, ngapain sih kamu sms aku kayak gitu..
Aku tau emang aku kayak gini..
Kamu gak ada bedanya sama Ade..
!@@^*^#&%&%&....!!
I HATE YOU.... :@
RECIEVED : 11 :  08 : 40 a.m
Aku bingung dengan apa yang dikatakan Kak Handi. Aku salah apa ? Apa dia mau balas dendam kepadaku ? Dia mau mengerjaiku? Tapi dalam rangka apa ? Berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku. Aku masih bingung dan tidak tau kesalahanku. Aku pun membalas SMS-nya dan menjawab bahwa aku tidak tau apa maksud pesaannya. Kak Handi membalas pesanku dan semakin marah kepadaku. Aku tetap berfikir, lalu aku membuka pesan terkirimku di ponsel. Dan ternyata ada satu pesan yang bukan aku yang membuatnya.
TO : Kak Handi +628925419963
TEXT MESSAGE :
Handi Pranata Bagus..
Jelek, pake behel warna biru, kacamata kuda
Nyebelin
Adee...
SENT : 10.08.45
Today
Ya ampun !! Jadi ini yang menyebabkan Kak Handi marah padaku. Aku kembali mengirim pesan pada Kak Handi. Dan menjelaskan semuanya namun, usahaku sia – sia. Dia tetap saja tidak percaya kepadaku. Dan mengira bahwa aku yang benar – benar mengirim pesan itu. Memang bukan salahku. Lagian sudah jelas yang mengirim Ade keran Ade juga mencantumkan namanya ketika mengirm pesan itu. Lalu aku bertanya pada Ade.
“ Ade, kamu apa – apaan sih, ngirim pesan seperti itu ke Kak Handi ??” tanyaku\u ketus.
“ Lhoh.... Emang kenapa ??” Dengan tatapan tidak bersalah.
“ Yeee.... pake tanya lagi. Jelas Kak Handi marahlah” Jawabku makin ketus.
“ Tapi, dia marahnya ke aku. Kan aku yang mengirimkan pesan itu.”
“ Siapa bilang ?? Dia marah ke aku, dia bilang aku yang ngirim SMS seperti itu ke dia. Aku sudah menjelaskan tapi dia gak mau mendengar penjelasanku. “
“ Ya sudah. Aku minta maaf.”
“ Apa minta maaf ?? Enak ya kamu ngomong kayak gitu.” 
“ Iiihh.. masa gitu aja marah. Maaf ya Lin.” Pinta Ade.
“ Yasudah aku maafkan “ jawabku walaupun agak gak ikhlas. Sepulang sekolah aku langsung masuk ke kamar. Hari ini aku terasa begitu lelah. Capek badan, capek pikiran capek hati pula...
Aku menceritakan kejadian yang baru aku alami pada Kak Putri. Dia berusaha menghiburku. Aku menangis.
“Tetep aja Kak, dia gak mau dengerin aku. Aku telepon juga gak diangkat.” Rengekku pada Kak Putri.
            “Ya udah kamu sabar aja. Lagian kan kamu masih punya teman yang lainnya. Gak Cuma Handi saja.”
            “Bukan masalah itu juga kali. Ntar kan dia mengira aku yang benar – benar mengirim pesan itu. Kan aku yang gak enak juga kalau suatu saat aku bertemu dia.” Jawabku sambil mengusap air mata yang membanjiri wajahku.
            “ Udah dong jangan nangis lagi. Ntar ketahuan Mama sama Papa lhoh. Ntar kakak bantu kamu bilang ke Handi bahwa kamu gak salah. Emang kenyataannya kamu gak salahkan ?? Ya sudah diam dong jangan nangis.” Jawab cewek berpipi tembem itu dan mengusap air mataku dengan lembut.
            “ Iya Kak, makasih. Tapi, aku kan sebel sama Ade. Uhhh.... rasanya aku gak mau kenal dia lagi. Ya ampun, aku gak habis pikir dia ngelakuin itu lagi ke aku. Dulu Iva dan Nana yang dibuatnya menjauh dariku. Sekarang Kak Handi. Capek aku digituin sama dia. Dia juga gak bisa jadi sahabat terbaikku.” Jawabku sambil memaki – maki Ade.
            “ Iya...iya Kakak tau. Emang sih, gak kakaknya, gak adiknya, sifatnya sama semua. Kakak juga sangat sebal kalau Febri sudah mengkritik orang. Ummmh... salah menghina bukan mengkritik. Tuh kan Lin, kakak jadi ngomongin orang deh. Kamu sih, kakak jadi kebawa emosi.” Sesal Kak Putri.
            “ Ha..ha..ha... Kak Putri ada – ada saja. Kakak kan ngomongnya kebetulan berarti itu murni kekesalan kakak yang ada benakmu. Ya sudahlah... Kita memang harus tabah mengahadapi orang yang seperti itu. Emang watak orang berbeda – beda.”
            “ Iya.. ya... akhirnya kamu berhenti nangis juga yah... Gitu dong aku bisa lihat lagi, Elina yang ceria dan gak pernah diem.” Ucap cewek berkulit putih itu.
            “ Iya...iya...”
            “ Ya sudah. Coba hubungi Handi sekali lagi. Aku mau tidur. Duluan yah.”
Aku menuruti saran Kak Putri dan mencoba menghubungi Kak Handi, aku  mengirimkannya pesan tidak dibalas. Meneleponnya tidak diangkat. Yasudah aku menyerah dan merelakan bahwa aku sudah kehilangan sahabat baikku untuk kesekian kalinya.
***
Beberapa bulan kemudian......
Elina melihat dari kejauhan ada seseorang memandanginya. Memandang dengan sinis tapi, seperti ada sedikit pandangan bersahabat. Elina melihat disekelilingnya sudah tidak ada siswa yang memakai seragam putih – merah lagi melainkan siswa yang beranjak dewasa yang memakai seragam putih – biru. Elina menatap Handi dengan wajah memelas dan Handi memalingkan wajahnya kemudian meninggalkan Elina. Dan Handi memang sudah tidak bisa memaafkan Elina.
“BERBAHAGIALAH KALIAN YANG MEM PUNYAI  SAHABAT....!!” Gumam Elina.
~~~~~~ THE END ~~~~~~

No comments:

Post a Comment